Jurnal Remaja

Tak diunggulkan siapapun… (SNMPTN 2012)

Gila! Itulah pikiran saya dan mungkin pikiran banyak orang di sekeliling saya. 

It`s ok saya tak menyalahkan siapapun. Temen-temen bingung ya? Ok saya ceritakan dari awal.

Dua tahun lalu seorang anak tersesat. Ia mencari jalan keluar dari pondok pesantren. Ketidak betahan adalah alasan utama. Sayang ia hanya manusia yang  tanpa tujuan yang jelas. Selain itu pembatasan dari orang tua membuat ia mengalami pengekangan persuasif. Alhasil terjebaklah ia di kelas AKSELERASI. 

Apa itu? Ia tak tahu. Yang penting keluar dari ponpes. Itu yang ada di benaknya.

Alhasil ia akhirnya sadar ia tersesat ketika AKSELERASI = IPA. Ironis memang, di saat banyak anak-anak yang ingin masuk IPA, ia justru menginginkan masuk IPS. Memang dari awal ia cukup berminat untuk mengambil jurusan IPS terutama karena pelajaran ekonomi yang ia sukai sejak MTs. Puncaknya bahkan menjadi perwakilan OSN dari SMA meskipun ia masih kelas 10. Namun ketentuan sekolah memaksanya untuk bertahan di IPA. 

Kurang lebih enam belas bulan (Akselerasi 2 tahun untuk kelas X, XI, XII. Atau 8 bulan per kelas) ia lalui dalam paksaan belajar IPA. Ia, yang awalnya mencintai Matematika, kini mulai tak sepeka dulu. Rangkingnya pun merosot jauh dari saat masih kelas 10. Yang duluan selalu rangking 6 kini masuk belasan. Keadaan ini semakin membuatnya malas, terlebih lagi dia mengikuti berbagai banyak organisasi dan ia lebih comfort terjun ke organisasi ketimbang bergelut sebagai akademisi.

Organisasinya memang beragam mulai ROHIS, yang bersifat internal sekolah, hingga organisasi-organisasi dakwah (Islami) seperti Genta Hati, Iqro Club dan KAPMI. Efeknya ia pun jarang masuk sekolah. Guru Biologinya selalu hafal kursi sang anak yang kosong apabila ia mengajar karena memang sang anak punya jadwal bolos, yaitu Senin dan Jumat. Selasa sampai Kamis pun wajahnya jarang terlihat karena ia lebih memilih tertidur saat pelajaran. Nama sang anak pun masuk salah satu daftar murid paling banyak alfa. Sebenernya sang anak alfa bukan karena ke warnet atau ke manapun itu. Ia hanya males ke sekolah yang jauh.

Namun siapa yang tahu, ternyata ia memiliki filosofi sendiri dalam belajar. Ia pernah menonton film “3 Idiots” dan jujur anak ini sangat termotivasi melihatnya. Rancho, sang tokoh utama, mengatakan bahwa ada dua penyebab anda sulit belajar dan ini sudah pasti akan menghalangi kesuksesan anda pada bidang ilmu itu. Dua hal itu adalah : ketakutan akan gagal dan ketidak cintaan terhadap bidang ilmu itu sendiri.

Sang anak sendiri sadar ia akan sulit mengimbangi pelajaran IPA yang tidak ia cintai. Tapi ia tak mau berhenti bermimpi untuk bisa kuliah di univ yang bagus.

Awalnya ia ingin masuk ke UGM. Akan tetapi salah satu seniornya di IQRO Club berbicara kepadanya “Akh antum kalo bisa kuliahnya di UI aja. Biar ada yang nerusin dakwah di sini. Masa’ setiap lulus SMA hasil didikannya yang bagus malah pergi semua. Di sini ga berkembang dong”. Pernyataan inilah yang memotivasi ia untuk kuliah di UI. Lagi pula ia telah memegang binaan. Umminya selalu mengingatkan bahwa jika ia sukses secara akademis maka ia akan dapat menjadi contoh dan teladan bagi binaan dan temen-temennya. Meskipun jujur itu layaknya mimpi. Bagaimana mungkin seorang tukang molor dan pembolos bisa masuk salah satu universitas bergengsi di Indonesia?

Tapi entah bagaimana sang anak ini begitu “pede”. Sebelum UN ada acara motivasi dari sekolah untuk menguatkan mental murid-muridnya. Motivasi ini tentang keinginan  bermimpi. Di akhir acara, sang motivator meminta semua anak menulis mimpinya. Setelah itu ia menantang salah satu dari semua siswa untuk membacakan mimpinya. Majulah si anak ini. Ia menulis Fakultas Ekonomi UI sebagai tujuannya di tahun ini. Dalam hatinya ia yakin dibelakang sana ada saja guru yang tersenyum sinis mendengar itu. Tidak salah memang. Toh ia tukang bolos. Tukang tidur! Tak hanya itu. Ia dengan berani menuliskan FE-UI 2012 di profil BBM-nya. 

Pengumuman UN pun dilalui. Ia hanya menerima nilai standar. Ia sudah sangat bersyukur. Karena dalam dugaannya dia mungkin tidak lulus. Meskipun minder juga melihat nilai teman-teman yang tinggi. Sejujurnya ia pun bisa seperti itu jika mau, tapi ia tau cara itu salah. Sabar bro, kejujuran adalah segalanya. Insya Allah kejujuran akan mendatangkan keberkahan meskipun nilainya kecil, benaknya selalu berkata demikian ketika timbul rasa iri.

Setelah UN sang anak mengikuti bimbel di Nurul Fikri Pertukangan Jakarta Selatan. Ia belajar dengan giat. Banyak kegiatan organisasi yang tetap ia ikuti. Tapi ia selalu memastikan tak mengganggu jam bimbel. Pada saat pemilihan jurusan ia mencoba untuk mengambil Manajemen. Mengapa tidak akuntansi? Ia berargumen bahwa ia lebih suka mengatur ketimbang mendata. Ilmu Ekonomi? Terlalu teoritis. Entahlah. Itu pilihan dia. Di pilihan kedua ia mencoba meletakkan ilmu politik. Ia berasumsi bahwa ilmu politik peminatnya lebih dikit. Selain itu pengalamannya pernah menjuarai lomba debat konstitusi di provinsi mebuatnya memiliki minat terhadap politik. Intinya pilihan kedua lebih logis dengan passing grade yang jauh lebih kecil.

Tujuh pekan ia lalui di bimbel dan yang terjadi sangat berbeda dengan saat sekolah. Saat bimbel, ia sangat enjoyable. Tak pernah ia tidak masuk tanpa alasan yang jelas. Selidik demi selidik ternyata anak itu sangat mencintai IPS. Bahkan terkadang ketika ia berdebat dengan teman-temannya yang memang hobi debat, ia mengeluarkan istilah-istilah yang ia pelajari di bimbel.

Dari hasil beberapa kali try out, dia sudah dapat melewati nilai pilihan kedua (Ilmu Politik). Sayangnya ia sama sekali tak pernah menembus passing grade Manajemen. Di malam sebelum hari pelaksanaan SNMPTN, ia sangat optimis bisa melewati passing grade Manajemen. 

SNMPTN pun dimulai……………….

Setelah hari kedua SNMPTN dan SNMPTN selesai, rasa optimisnya dipatahkan mentah-mentah oleh kunci jawaban dari NF. Banyak jawaban yang ia tau tapi dia tak teliti dalam menjawab. Sebenarnya Nurul Fikri menyuruh pesertanya untuk mengumpulkan jawabannya. Lalu jawaban itu akan diteliti dan diprediksi. Akan tetapi anak ini tak mengumpulkannya. Melihat jawabannya banyak yang salah saja sudah membuat dia pesimis. Dalam hal ini dia membuat perhitungan nilai sendiri dalam menentukan apakah nilainya melewati passing grade atau tidak. Sayangnya melalui sistem perhitungan inilah dia menyimpulkan bahwa ia akan gagal. Ia menyimpulkan bahwa nilainya masih seperti try out di NF dulu. Di atas Ilmu Politik UI di bawah Manajemen UI.

Harapan terakhir ia adalah berhasil masuk kuota Ilmu Politik UI. Itu saja. Bahkan ia mulai menghapus tulisan FE-UI 2012 di profil BBM-nya.

Ia merasa, sudah cukuplah Ilmu Politik untuk pelajar suram dengan cita-cta GILA sepertiku. Lagi pula ia tak diunggulkan oleh siapapun….

Detik-detik pengumuman SNMPTN pun tiba. Server sempat down dan membuat seisi rumah semakin penasran. Ummi dan abinya , yang sudah merestui Ilmu Politik saja, pun ikut bingung mengatasi down server ini. Hingga akhirnya dengan me-refresh berkali-kali dan ucapan Bismillah… Terbukalah (lihat gambar)

SNMPTN

Seketika hanya ada jeritannya yang diiringi tangis kedua orang tuanya. Suasana haru.

Salam Semangat 
Peserta SNMPTN 2012
Manajemen UI 2012

6 Juli 2012 

Ikhwan Sejati at Tidung Island (by Miqdad)

islamic-quotes:

When u’re going through something hard

islamic-quotes:

When u’re going through something hard

> ©opyright by Jurnal Remaja